Channel Pers

Opini: Kebijakan WFH di Tengah Efisiensi Anggaran Ditinjau dari Segi Ekonomi Oleh : Syamsu Rijal



Channelpers.com -Kebijakan Work From Home (WFH) kembali menjadi perbincangan seiring dengan upaya pemerintah dan berbagai institusi dalam melakukan efisiensi anggaran. 

Pada dasarnya, WFH bukan hanya sekadar kebijakan darurat seperti saat pandemi, melainkan telah berkembang menjadi alternatif sistem kerja yang dinilai mampu menekan biaya operasional. 

Namun, jika ditinjau dari perspektif ekonomi, efektivitas kebijakan ini tidak bisa dilihat secara sederhana.
Dari sisi efisiensi anggaran, WFH memberikan keuntungan yang cukup signifikan. 

Instansi pemerintah maupun perusahaan dapat mengurangi pengeluaran untuk listrik, air, pemeliharaan gedung, hingga biaya operasional harian seperti konsumsi rapat dan transportasi dinas. 

Dalam konteks makro, pengurangan belanja rutin ini dapat membantu menjaga stabilitas fiskal, terutama di tengah tekanan anggaran akibat ketidakpastian ekonomi global.

Selain itu, bagi pekerja, WFH juga berpotensi menekan biaya pribadi seperti transportasi, konsumsi di luar rumah, dan waktu perjalanan. Secara ekonomi, hal ini meningkatkan disposable income yang dapat dialihkan untuk kebutuhan lain atau tabungan. 

Efisiensi waktu juga dapat meningkatkan produktivitas individu apabila dikelola dengan baik.
Namun demikian, kebijakan WFH tidak sepenuhnya bebas dari konsekuensi ekonomi. 

Salah satu dampak yang sering luput diperhatikan adalah penurunan aktivitas ekonomi di sektor informal dan UMKM yang bergantung pada mobilitas pekerja, seperti pedagang kaki lima, transportasi umum, dan usaha kuliner di sekitar perkantoran. Ketika pekerja tidak lagi hadir secara fisik, terjadi penurunan permintaan yang secara langsung memengaruhi pendapatan pelaku usaha kecil.

Di sisi lain, WFH juga berpotensi menimbulkan hidden cost. Tidak semua pekerjaan dapat dilakukan secara optimal dari rumah, terutama yang membutuhkan koordinasi intensif, pengawasan langsung, atau fasilitas khusus. 

Jika produktivitas menurun, maka efisiensi anggaran yang diharapkan justru bisa berbalik menjadi kerugian ekonomi jangka panjang. 

Selain itu, beban biaya operasional seperti listrik dan internet sebagian beralih ke pekerja, yang dalam beberapa kasus dapat menimbulkan ketimpangan.
Dalam perspektif ekonomi yang lebih luas, kebijakan WFH seharusnya tidak diterapkan secara seragam. Pendekatan yang lebih tepat adalah model kerja hibrida yang menyeimbangkan antara efisiensi anggaran dan keberlangsungan aktivitas ekonomi. 

Dengan sistem ini, penghematan tetap dapat dicapai tanpa mengorbankan produktivitas dan ekosistem ekonomi di sekitar tempat kerja.

Sebagai penutup, kebijakan WFH di tengah efisiensi anggaran merupakan langkah yang rasional, namun perlu diimplementasikan secara selektif dan adaptif. 

Efisiensi tidak hanya diukur dari pengurangan biaya jangka pendek, tetapi juga dari dampaknya terhadap produktivitas dan keberlanjutan ekonomi secara keseluruhan. Pemerintah dan institusi perlu mempertimbangkan keseimbangan antara penghematan anggaran dan efek multiplikatif terhadap perekonomian masyarakat.
Syamsu Rijal


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama